Propaganda Jepang (Artikel Sejarah)

Propaganda Jepang Oleh: Sherly Maulida Putri Abstrak Artikel ini merupakan kajian sejarah penjajahan Jepang di Indonesia. Propaganda adalah salah satu bentuk tindakan penerangan dan paham yang dikembangkan oleh Jepang dengan maksud meyakinkan rakyat Indonesia untuk menganut suatu sikap atau arah tindakan tertentu serta menarik simpati dari masyarakat Indonesia agar mau membantu Jepang dalam perang melawan sekutu dengan imbalan janji akan dimerdekakan. Kata Kunci: Propaganda, Jepang, bentuk pergerakan, masa penjajahan. Pendahuluan Propaganda dalam KBBI memiliki makna berupa penerangan, paham, pendapat dan sebagainya yang dikembangkan dengan maksud tujuan meyakinkan orang lain untuk menganut suatu sikap atau arah tindakan tertentu. Propaganda yang pertama kali dikeluarkan adalah gerakan 3A yang dicetuskan pertama kali pada tanggal 29 April 1942. Gerakan 3A merupakan organisasi sosial yang memiliki tujuan mewadahi rakyat Indonesia agar lebih mudah mengkoordinasi rakyat Indonesia untuk membantu mencapai tujuan Jepang. Namun, propaganda gerakan 3A ini tidak bertahan lama dengan alasan lebih berorientasi kepada Jepang dibanding rakyat Indonesia. Selain gerakan 3A, Jepang juga melakukan gerakan propaganda yang lain seperti Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) yang dibentuk untuk menggantikan gerakan 3A dengan tujuan meningkatkan semangat rakyat Indonesia dalam membantu Jepang melawan sekutu dan Jawa Hokokai (Kebaktian rakyat Jawa) yang dibentuk saat kedudukan pasukan Jepang semakin terdesak dalam perang melawan sekutu, Organisasi ini dibentuk dengan tujuan untuk menggerakkan seluruh rakyat Indonesia agar berbakti kepada Jepang. Untuk membuktikan kebaktian rakyat terhadap Jepang, rakyat Indonesia diharuskan dan dipaksa untuk mengikuti kegiatan militer Jepang. Akan tetapi dari ketiga propaganda yang dicetuskan oleh Jepang, tidak ada satu pun propaganda yang bertahan lama. Pada awalnya, semua propaganda tersebut memang berhasil mendapatkan simpati dari rakyat Indonesia tetapi seiringnya berjalannya waktu rakyat Indonesia mulai tidak tertarik lagi terhadap propaganda serta janji – janji dari Jepang karena pada dasarnya apa yang dilakukan Jepang tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Belanda sebelumnya. Propaganda yang dilakukan Jepang Secara resmi, Jepang telah menguasai Indonesia sejak tanggal 8 Maret 1942. Pada saat panglima tertinggi Pemerintah Hindia-Belanda menyerah tanpa syarat di Kalijati, Bandung. Dengan kampanye 3A, kedudukan Jepang di Asia semakin kuat meski kedatangannya sama seperti Belanda yaitu dengan tujuan menjajah, Jepang diterima dan disambut baik oleh rakyat Indonesia. Hal ini dikarenakan Jepang menyatakan bahwa kedatangan mereka bukan untuk menjajah melainkan untuk membantu membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu para penjajah. Pernyataan Jepang tersebut diperkuat dengan semboyan Hakoo Ichiu, yang memiliki arti bahwa dunia dalam satu keluarga dan Jepang adalah pemimpin keluarga tersebut yang berusaha menciptakan kemakmuran. Mereka membayangkan bahwa rakyat Indonesia harus sepenuhnya diarahkan ke tingkah laku dan pola pikir Jepang. Program propaganda ini dirumuskan sedemikian rupa sehingga bisa efektif mendoktrinasi rakyat Indonesia. Selain dengan cara politik, propaganda Jepang juga dilakukan dengan memanfaatkan seni pertunjukkan sandiwara. Hal ini juga ditopang dengan sikap pemerintahan Jepang yang anti dengan budaya Barat, pemutaran film-film yang sebagian besar berasal dari Barat dilarang keras untuk ditayangkan. Pemerintahan Jepang beranggapan bahwa perlu mobilisasi seluruh masyarakat dan membawa sepenuhnya mobilitas rakyat Indonesia menuju kesesuaian dengan ideologi Jepang tentang lingkungan kemakmuran bersama Asia Timur. Jepang juga melakukan upaya pemusnahan budaya Barat dengan cara melarang pemakaian bahasa Belanda dan mereka mempromosikan penggunaaan bahasa Jepang dan bahasa Melayu dalam bidang pemerintahan dengan maksud agar rakyat Indonesia bisa mempercayai bahwa Jepang mendukung Indonesia. Propaganda yang pertama kali dicetuskan oleh Jepang adalah Gerakan 3A pada bulan April 1942, dengan Mr. Sjamsuddin sebagai pimpinannya. Tujuan dicetuskannya organisasi ini adalah agar rakyat dengan sukarela dapat menyumbangkan tenaga untuk membantu perang Jepang dengan sekutu. Organisasi ini juga memiliki semboyan yang berbunyi Nippon cahaya Asia, Nippon pelindung Asia, Nippon pemimpin Asia. Untuk menyebarluaskan propaganda ini, Jepang menerbitkan surat kabar Asia Raya. Gerakan ini meliputi berbagai bidang pendidikan, bidang pendidikan dapat memenuhi sasaran untuk menampung pemuda – pemuda yang berusia 14-18 tahun. Cara pendidikannya cukup unik yaitu para peserta harus bangun pagi buta lalu berolahraga, memasak dan mengurus kebun. Di siang harinya mereka berlatih olahraga Jepang seperti sumo, jiu jitsu, adu pedang dan sebagainya. Pada malam harinya mereka akan dilatih bahasa Jepang. Ada juga subseksi Jepang yang dipimpin oleh Abikusno Cokrosuyoso. Namun organisasi ini tidak bertahan lama karena berkurangnya simpati dari rakyat Indonesia, gerakan ini juga dianggap kurang menarik karena lebih menonjolkan kepentingan Jepang serta tidak ada manfaat dalam perjuangan mencapai kemerdekaan. Karena hal tersebut, organisasi ini dibubarkan pada tanggal 20 November 1942. Setelah pembubaran organisasi Gerakan 3A, Jepang kembali membuat gerakan baru yang disebut Pusat Tenaga Kerja (PUTERA) yang dicetuskan pada tanggal 9 Maret 1943. Kali ini pemimpinnya adalah empat serangkai yaitu Ir. Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan Mas Mansyur. Tujuan PUTERA adalah membangun dan menghidupkan kembali hal-hal yang dihancurkan oleh Belanda sebelumnya. Menurut Jepang, PUTERA bertugas untuk memusatkan segala potensi rakyat untuk membantu Jepang dalam perang, selain itu PUTERA juga bertugas untuk memperbaiki bidang sosial ekonomi. Gerakan ini tidak dibiayai oleh pemerintah Jepang, namun para pemimpin bangsa diperbolehkan untuk menggunakan fasilitas komunikasi milik Jepang seperti koran dan radio sehingga dapat lebih leluasa untuk berkomunikasi kepada rakyat. Jadi, PUTERA sebenarnya dibentuk untuk membujuk tokoh nasionalis sekuler dan golongan intelektual agar mengerahkan tenaga serta pikiran untuk membantu Jepang menyukseskan perang Asia Timur karena saat itu Jepang sudah mulai tersedak dan membutuhkan banyak tenaga serta sumber daya manusia untuk melawan sekutu. Dalam propaganda, Jepang menggunakan semboyan Hakko Icchiu yang berarti “De======================lapan Penjuru Dunia di bawah Satu Kaisar”, PUTERA menggalang rekrutmen tenaga kerja dengan dalih untuk membantu perang mempertahankan Indonesia dari serangan sekutu. Akan tetapi, organisasi gerakan ini semakin hari semakin mundur karena satu atau dua alasan seperti keadaan sosial masyarakat ternyata masih terbelakang dan keadaan ekonomi masyarakat yang kurang mendukung sehingga mereka tidak bisa membiayai gerakan ini. Dalam perkembangannya, PUTERA lebih banyak dimanfaatkan untuk perjuangan dan kepentingan bangsa Indonesia. Akibatnya, Jepang membubarkan organisasi gerakan ini dan menggantinya dengan Jawa Hokokai. Jawa Hokokai atau himpunan kebaktian Jawa, dibentuk oleh Jepang pada 1 Maret 1944 sebagai pengganti organisasi gerakan PUTERA. Pemimpin tertinggi dari perkumpulan organisasi ini adalah Gunseikan dan Soekarno menjadi penasehat utamanya. Organisasi ini merupakan kumpulan dari Hokokai atau jenis pekerjaan (profesi), antara lain seperti Izi Hokokai (Himpunan Kebaktian Dokter), Kyoiku Hokokai (Himpunan Kebaktian Pendidik), Fujinkai (Organisasi Wanita), dan Keimin Bunka Shidoso (Pusat Budaya). Anggotanya mencakup semua golongan masyarakat, termasuk golongan Tionghoa, Arab dan Indo-Eropa. Perkumpulan ini dikontrol secara langsung oleh Jepang, Jawa Hokokai memiliki cabang hingga ke tingkat tonarigumi dan bertugas sebagai pelaksana pengerahan atau mobilisasi barang yang berguna untuk peperangan. Terdapat dokumen arsip mengenai Jawa Hokokai yang tersimpan di Nishijima Collection JV-20 yang ditulis oleh panitia Jawa Hokokai pada tahun 1944 dengan isi: “Peraturan-peraturan untuk Jawa Hokokai oleh Komisi Persiapan, terdiri dari amanat oleh Harada Kumakhici, Komandan Tertinggi Tentara di Jawa, pidato oleh Shinshichiro kokubu, Gunseikan Jawa, wacana oleh pemerintahan militer, aturan terperinci Jawa Hokokai dan Gambaran umum Jawa Hokokai. Dan satu dokumen arsip lainnya yang disimpan di tempat yang sama dengan isi: “Garis besar Jawa Hokokai disebutkan (1) ingat misi perang suci Asia Timur dan berjuang semaksimal mungkin, (2) pertahankan semangat perjuangan, (3) membangun Jawa sebagai bagian dari Daitoakyoeken (Wilayah Asia Timur Raya)” Dokumen arsip ini ditulis dengan bahasa Jepang bersama bahasa Indonesia. Propaganda-propaganda Jepang ini pada akhirnya mendapat kecaman dari rakyat Asia. Slogan tentang “Asia untuk orang Asia” menjadi tidak sesuai dengan kenyataan. Jepang yang selalu mempropagandakan untuk membebaskan Asia, ternyata tidak jauh berbeda dengan bangsa-bangsa Eropa lainnya. Imperialisme Jepang justru jauh lebih buruk karena seluruh sumber daya manusia dan sumber daya alam diambil untuk tujuan peperangan. Kesimpulan Penjajahan yang dilakukan Jepang di Indonesia berjalan kurang lebih sekitar 3 tahun. Selama 3 tahun tersebut, Jepang terus mengeluarkan berbagai macam bentuk propaganda yang dimaksudkan untuk menarik simpati rakyat Indonesia agar mau membantu Jepang dalam perang melawan sekutu. Pada saat itu Jepang sudah semakin terdesak dalam perang pasifik dan personil tentara militer Jepang mulai berkurang sehingga Jepang mencetuskan propaganda sebagai mobilisasi untuk mendoktrinasi rakyat Indonesia agar mau berbakti terhadap pemerintahan Jepang. Propaganda ini juga merupakan salah satu bentuk strategi Jepang untuk menumbuhkan perasaan dan sikap antipasi rakyat Indonesia terhadap bangsa Barat. Walaupun pada awalnya propaganda ini berhasil memikat simpati dari rakyat Indonesia, tetapi tidak ada satu pun pergerakan propaganda yang bertahan lama. Propaganda dilakukan dengan berbagai media seperti kesenian, film atau bahkan koran. Media seperti film dan kesenian dianggap paling efektif untuk mempengaruhi masyarakat yang tidak berpendidikan sehingga lebih mudah untuk didoktrinasi. Namun pada akhirnya berbagai propaganda Jepang ini mendapat kecaman karena perlakuan mereka yang ternyata tidak jauh berbeda dengan perlakuan bangsa Barat. Jepang melakukan kerja paksa dan perbudakkan romusha terhadap rakyat Indonesia, rakyat dipaksa untuk membangun barak-barak militer dan juga dipaksa untuk menyerahkan seluruh harta benda. Akibatnya, banyak rakyat yang tersiksa dan bahkan mati kelaparan karena kekejaman Jepang tersebut. Daftar Pusaka Alhidayath Parinduri. (2021). Sejarah Gerakan 3A: Propaganda Jepang Demi Simpati Rakyat Indonesia. Jakarta: Tirto.id Anonim. Pendudukan Jepang Di Indonesia. Eptints.dinus.co.id Anonim. (2021). Pergerakan Zaman Jepang. Kelasips.com Sulaiman. (2021). Organisasi Pada Masa Pendudukan Jepang. Sma-syarifhidayatullah.sch.id Nino Oktorino. (2013). Ensiklopedia Pendudukan Jepang Di Indonesia. Jakarta: PT Alex Media Komputindo. Bookzren.com Hilmar Farid. (2018). Hubungan Indonesia Dan Jepang Dalam Lintasan Sejarah. Jakarta: Direktorat Sejarah. Bookzren.com Anton Lucas. (2012). Radikalisme Lokal: Oposisi Dan Perlawanan Terhadap Pendudukan Jepang Di Jawa. Yogyakarta: Syarikat Indonesia. Bookzren.com Hilmar Farid, Triana Wulandari. (2018). Masa Pendudukan Jepang Di Indonesia. Jakarta: Direktorat Sejarah. Bookzren.com Ellysa Aulia Rahmi. (2020). Strategi Propaganda Jepang. Jember: Anyflip.com Sofansyah, Dio Yulian. (2019). Propaganda Romusha Sandiwara Dari Jepang. Yogyakarta. Matapadi Presindo

Komentar